Dokter Tifa Sindir Ahli Gempa BMKG soal Gempa Turki, Rujuk "Profesor" Turki yang Bahas Reptil Kendalikan Pemimpin Dunia

Dokter Tifa yakin HAARP picu Gempa Turki.

Firman Doni
Kamis, 09 Februari 2023 | 19:19 WIB
Dokter Tifa Sindir Ahli Gempa BMKG soal Gempa Turki, Rujuk "Profesor" Turki yang Bahas Reptil Kendalikan Pemimpin Dunia
Dokter Tifa menyindir ahli gempa BMKG soal Gempa Turki. Gunakan rujukan kanal Youtube penulis kontroversial Turki. ((YouTube))

Dokter Tifa alias Tifauzia Tyassuma, pengguna media sosial yang sohor berkat konten-konten kontroversial, pada pekan ini menyindir Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono terkait gempa Turki.

Menurut Dokter Tifa, gempa Turki disebabkan oleh HAARP atau High Frequency Active Auroral Research Program, yang diklaimnya sebagai teknologi senjata Amerika Serikat yang mampu menyebabkan gempa Bumi.

Dokter Tifa bahkan mengindikasikan bahwa Gempa Aceh pada 2004 lalu juga disebabkan oleh HAARP.

"Mana orang BMKG @DaryonoBMKG yang kemarin bully saya? Ilmu mu kurang jauh, mas. Sana belajar HAARP sama Profesor Haluk Özdil," tulis Dokter Tifa di Twitter pada Rabu (8/2/2023), sembari menyebut akun Twitter Daryono.

Ia juga mengunggah video dari Youtube Haluk Ozdil, yang diklaimnya sebagai profesor. Daryono sendiri adalah salah satu pakar kegempaan BMKG yang menempuh pendidikan di kampus-kampus ternama seperti Universitas Indonesia, UGM dan Universitas Udayana.

Berdasarkan penelesuran Suara.com, Haluk Ozdil bukanlah peneliti atau profesor seperti diklaim Dokter Tifa. Ia adalah penulis dan sudah menerbitkan sejumlah buku dengan tema-tema kontorversial, antara lain tentang teori konspirasi di sekitar Hitler.

Ia juga mengelola kanal Youtube dengan lebih dari 250.000 subscriber. Konten-konten di dalamnya juga unik. Antara lain menghubungkan antara kapal perang Amerika Serikat dengan Gempa Turki,  illuminati, dan daftar pemimpin dunia yang dikendalikan oleh reptil.

HAARP sendiri adalah sebuah penelitian atau riset tentang ionosfer yang didukung oleh militer Amerika Serikat dan Universitas Alaska.

Tujuan riset ini adalah untuk mempelajari dinamika ionosfer dan menggali potensi untuk mengembangkan teknologi komunikasi radio dan pemantauan.

Salah satu perangkat terpenting dari riset ini adalah Ionospheric Research Instrument atau IRI yang terletak di Alaska. Perangkat ini terdiri dari 180 antena di lahan seluas ratusan hektare yang bisa mentransmisikan gelombang radio frekuensi tinggi ke atmosfer.

Para ilmuwan kemudian akan mengamati reaksi yang terjadi di ionosfer akibat paparan gelombang frekuensi tinggi tersebut. Reaksi ini mirip dengan proses paparan badai Matahari yang memicu aurora karenanya eksperimen ini disebut aurora buatan, tetapi dengan skala lebih kecil.

Informasi tentang HAARP terbuka dan bisa diakses oleh publik.

REKOMENDASI

BERITA TERKAIT

News

Terkini

Tampilkan lebih banyak