Scroll untuk membaca artikel
Senin, 22 Agustus 2022 | 14:17 WIB

Desa Wisata Limbo Wolio Tawarkan Wisata Budaya dan Sejarah

Oki Hajiansyah Wahab
Desa Wisata Limbo Wolio Tawarkan Wisata Budaya dan Sejarah
Desa Wisata Limbo Wolio Tawarkan Wisata Budaya dan Sejarah (Kemenparekraf)

Metro, Suara.com- Desa Wisata Limbo Wolio terletak di Kawasan Benteng Keraton Kesultanan Buton (Benteng Wolio), Kota Baubau, Sulawesi Tenggara ini memiliki potensi pariwisata yang sangat besar. Desa Wisata Limbo Wolio menjadi destinasi wisata unggulan Kota Baubau berkat adanya benteng terbesar di dunia tersebut. 

Pada tahun 2006 Benteng Wolio yang memiliki luas sekitar 23,3 hektare, mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) dan Guiness Book of World Record sebagai Benteng Terluas di Dunia. Tidak hanya terkenal luas dan megah, Benteng Wolio juga menyimpan sejarah panjang di balik kemegahannya. 

Konon, Benteng Wolio dibangun oleh Raja Buton III, La Sangaji (bergelar Kaimuddin) pada abad ke-16. Awalnya, benteng tersebut berupa tumpukan batu karst yang disusun mengelilingi kompleks istana. Benteng Wolio memiliki 12 pintu gerbang yang disebut dengan “Lawa”, dan 16 emplasemen meriam yang dikenal dengan “Badili”. Selain itu, benteng megah di Desa Wisata Limbo Wolio ini juga memiliki 4 boka-boka (bastion berbentuk bulat), batu tondo (tembok keliling), parit, dan persenjataan lainnya. 

Meski berada di puncak bukit dan lereng yang terjal, Benteng Wolio tetap bertahan dengan baik hingga sekarang. Bahkan, benteng terhindar dari ancaman musuh dalam kurun waktu lebih dari empat abad.

Baca Juga:Pemkot Bukittinggi Siapkan Cagar Budaya Bekas Lapas Jadi Sentra UMKM

Memasuki pemerintahan Raja Buton IV, La Elangi atau Dayanu Ikhsanuddin, benteng yang awalnya berupa tumpukan batu tersebut disulap menjadi sebuah bangunan permanen yang direkatkan dengan campuran putih telur, pasir, dan kapur.

Di kawasan Benteng Wolio wisatawan bisa melakukan ziarah dan memberikan penghormatan kepada jasa-jasa Sultan Murhum selama masa hidupnya. Wisata ziarah yang dilakukan di Desa Wisata Limbo Wolio dikenal dengan “Santiago”.

Potensi pariwisata di Desa Wisata Limbo Wolio tidak hanya benteng terbesar dan termegah di dunia saja tapi juga Masjid Agung Kesultanan Buton.  Masjid yang didirikan semasa pemerintahan Sultan Buton VI, Lakilaponto atau dikenal dengan nama Sultan Murhum Kaimuddin Khalifatul Khamis, Masjid Agung Kesultanan Buton sarat akan makna. Misalnya, 17 anak tangga yang menandakan jumlah rakaat salat, bedug sepanjang 99 cm yang melambangkan asmaul husna, serta 33 pasak yang sesuai dengan jumlah tasbih. 

Selain itu daya tarik budaya di Desa Wisata Limbo Wolio lainya adalah Pekande-kandea atau dikenal dengan makan-makan. Di acara ini seorang gadis akan menyuapi tamu yang hadir sambil menggunakan pakaian adat Buton, lengkap dengan riasan. Tradisi Pekande-kandea dilaksanakan untuk pelestarian budaya sekaligus ajang mencari jodoh. 

Baca Juga:Dukung Pelestarian Budaya, 300 Perajin Batik Jadi Mitra Pertamina

Berita Terkait

Tag

terpopuler

Olahraga

Terkini

Loading...
Load More
Ikuti Kami

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda